Pentingnya Actuating dalam Organisasi

0

Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia pada pelaksanaan tugas. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.

Actuating sangat penting karena menentukan apakah rencana-rencana yang telah dibuat pihak menejamen dapat berjalan atau tidak. Perencanaan tanpa adanya pelaksanaan merupakan suatu hal yang sia-sia sehingga sangat penting agar rencanya tersebut dapat tercapai dan terlaksana di dalam fungsi actuating ini. Karena pentingnya actuating, maka pihak manajemen harus benar-benar melakukan cara-cara agar seluruh anggota organisasi mau untuk mencapai sasaran organisasi dengan menjalankan rencana yang telah dibuat sebelumnya.

Prinsip-prinsip Actuating

Pengarahan merupakan aspek hubungan antar manusiawi dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaga kerja efektif serta efesien untuk mencapai tujuan.

Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia, juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Manusia dengan berbagai tingkah laku yang berbeda-beda, memiliki pandangan serta pola hidup yang berbeda pula. Oleh karena itu, pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip, yaitu:

  1. Prinsip mengarah pada tujuan

Tujuan pokok dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan terhadap usaha mencapai tujuan. Pengarahan tidak dapat berdiri sendiri,artinya dalam melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan/bantuan dari factor-faktor lain seperti :perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan bawahan.

  1. Prinsip keharmonisan dengan tujuan

Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang mungkn tidak mungkin sama dengan tujuan perusahaan. Mereka mengkehendaki demikian dengan harapan tidak terjadi penyimpangan yang terlalu besar dan kebutuhan mereka dapat dijadikan sebagai pelengkap serta harmonis dengan kepentingan perusahaan.

Semua ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang baik akan mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang wajar. Sedang kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat bekerja dengan baik, dan pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi.

  1. Prinsip kesatuan komando

Prinsip kesatuan komando ini sangat penting untuk menyatukan arah tujuan dan tangggung jawab para bawahan. Bilamana para bawahan hanya memiliki satu jalur didalam melaporkan segala kegiatannya. Dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja, maka pertentangan didalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta semakin besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.

Sumber

Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Robbins, Stephen P & Coulter, Marry. 2007. Management, ninth edition.

Robbins P. Stephens. Organizational Behavior. New Jersey 1989

Cribbin J. James . Kepemimpinan ( Strategi mengefektifkan organisasi ). New York 1981

Nama : Tri Handayani

NPM : 17512449

Kelas : 3PA04

Pengertian Actuating

0

Pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.

Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :

  1. Merasa yakin akan mampu mengerjakan,
  2. Yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,
  3. Tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting,atau mendesak,
  4. Tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan
  5. Hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

Fungsi dan Peranan Actuating (Penggerakan)

Pertama, adalah melakukan pengarahan (commanding), bimbingan (directing) dan komunikasi. Dijelaskan pula bahwa pengarahan dan bimbingan adalah kegiatan menciptakan, memelihara, menjaga/mempertahankan dan memajukan organisasi melalui setiap personil, baik secara struktural maupun fungsional, agar langkah operasionalnya tidak keluar dari usaha mencapai tujuan organisasi.

Kedua, penggerakan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

Contoh Kasus :

Di Gugus Depan X, Pradana (ketua dewan ambalan) memerintahkan anggotanya untuk menaikkan barang-barang perlengkapan kemah ke atas truk. Anggotanya terlihat enggan melakukan perintahnya dan menanggapi dengan acuh tak acuh.

Salah seorang anggota dewan ambalan yang cukup disegani berdiri dan berteriak, “Semangat kawan-kawan, mari kita kerjakan!” Karena ajakannya, semuanya jadi bergairah dan mulai bekerja menaikkan barang-barang.

Analisis Kasus

Kasus diatas merupakan contoh kasus actuating yaitu penggerakan yang dilakukan oleh salah seorang dewan yang cukup disegani. Ada salah satu factor yang mampu menggerakan orang lain, yaitu: Wibawa Formal (Legitimate Power) merupakan kekuatan pengaruh yang dilatarbelakangi karena jabatan formalnya. Seorang warga akan lebih mudah menuruti kata-kata seorang Kepala Desa dibandingkan dengan seorang warga biasa lainnya.

Sumber :

Mulyono. 2008. Manajemen administrasi dan pendidikan. Yogyakarta: ar-ruzz media.
Bennis, Warren. 1994. Menjadi Pemimpin Efektif (On Becoming a Leader). Alih bahasa Anna W.Bangun, Elex Media Komputindo,

Covey, Stepehen R. 1997. The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang sangat efektif) Jakarta: Binarupa Aksara

Nama : Tri Handayani

NPM  : 17512449

Kelas  : 3PA04

Bentuk-bentuk Dasar Struktur Organisasi

0

Struktur Fungsional

Organisasi fungsional merupakan pendekatan struktur organisasi yang digunakan oleh sebagian besar perusahaan kecil atau menengah. Organisasi seperti ini biasanya terbentuk disekitar fungsi bisnis dasar (pemasaran, operasional, keuangan). Dengan demikian, dalam perusahaan terdapat departemen pemasaran, departemen operasi, dan departemen keungan.

Manfaat Struktur Fungsional

  • Mencakup spesialis di bidang-bidang fungsional dan timbulnya koordinasi yang lebih baik antara mereka. Para pakar pemsar dengan pelatih khusus, misalnya diterima bekerja departemen pemasaran yang menangani seluruh pemasaran perusahaan tersebut.
  • Struktur fungsional juga membantu timbulnya system sentralisasi (yang dikehendaki ataupun tidak dikehendaki) serta menyebabkan akuntabilitas menjadi lebih sulit. Dengan demikian sering berkembangnya organisasi, organisasi cenderung mengabaikan bentuk itu dan berpaling ke tiga struktur lain.

Struktur Divisional

Organisasi divisional bergantung pada departemtalisasi berdasarkan produk. Perusahaan menciptakan divisi berdasarkan produk. Perusahaan menciptakan divisi berdasarkan produk. Dimana setiap divisi dapat dikelola sebagai perusahaan yang terpisah. Organisasi yang menggunakan pendekatan ini biasanya memiliki beberapa divisi. Departemen yang menyerupai bisnis terpisah yang memproduksi dan memasarkan produk meraka sendiri. Pimpinan setiap divisi bisa jadi adalah seorang wakil presiden atau jika organisasi itu besar adalah presiden divisional. Selain itu, setiap divisi biasanya memiliki identitas sendiri dan beroprasi sebagai bisnis yang relative bersifat otonom dibawah naungan korporasi yang lebih besar.

Manfaat Struktur Divisional

Adapun kelebihan dari struktur organisasi divisional antara lain:

  • Koordinasi antar fungsi menjadi lebih mudah dan cepat
  • Mempunyai fleksibilitas pada struktur perusahaan
  • Spesialisasi pada setiap divisi dapat dipertahankan
  • Kesempatan karir lebih terbuka

Sumber :

Wijatno, Serian. 2009. Pengantar entrepreneuship. Jakarta: Grasindo

Ebbert. R. J; Griffin. R. W. Bisnis edisi delapan. Jakarta: Erlangga

Dr. Mahmuh M, hanafi, MBA. 2003. Mangemen Edisi Revisi. Yogyakarta: Akademi Managemen Perusahaan YKPN

Handoko, T.Hani. 2009. Manajemen.Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA

Nama : Tri Handayani

NPM  : 17512449

Kelas  : 3PA04

Struktur Organisasi dan Pengorganisasian

0

Pengertian Struktur Organisasi

Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa.

Pengertian Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya.

Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.

Fungsi Manajemen

  1. Struktur Formal ialah suatu organisasi yang memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan secara jelas. Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat dalam suatu organisasi). Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara jelas disusun. Organisasi formal harus memiliki tujuan atau sasaran.
  2. Struktur Informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari. Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut. Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan.

Contoh Kasus

Struktur Organisasi untuk Manajemen Talenta

Situasi:

Banyak organisasi memperkenalkan strategi manajemen talenta dengan menempelkannya pada struktur yang sudah ada dalam organisasi.  Studi kasus ini menggambarkan suatu pendekatan di mana strategi manajemen talenta menjadi bagian integral dari struktur organisasi dan menjadi basis bagi pengembangan strateginya.

Dalam kasus ini perusahaan menginginkan secepatnya karyawan bertanggung jawab memberi laba nyata bagi perusahaan. Apabila berhasil, setelah kemampuan karyawan berkembang, perusahaan memberi tanggung jawab yang lebih besar lagi. Falsafah pengembangan tanggung jawab ini digabungkan dengan konsep yang disebut sebagai “fully burdened profit center”.

Analisa Kasus

Secara teori, salah satu peran Managing Director Divisi adalah mengarbitrase persaingan antar pusat laba, dan memutuskan batas-batas wilayah masing-masing unit laba. Masalah klasiknya adalah prospek atau pelanggan yang beroperasi di suatu wilayah, tetapi memiliki unit-unit di wilayah lain yang menjadi ‘wilayah kekuasaan’ dari pusat-pusat laba yang berbeda-beda dari Grup.

Dampak negatif kedua adalah tumbuhnya sikap ‘kerajaan saya’ yang menjadikan sumber daya pada pusat laba bersifat eksklusif, tidak boleh digunakan oleh pusat laba atau bagian lain. Masalah muncul ketika suatu unit laba kapasitasnya sedang ‘berlebih’, sementara pusat laba lain sedang ‘kekurangan’. Memang ini merupakan bagian dari siklus bisnis, tetapi sangat mengganggu kinerja bisnis Grup secara keseluruhan apabila antar pusat laba tidak dapat berbagi sumber daya. Kondisi ini diatasi dengan model pembebanan antar unit.

Semua isu ini menjadi bagian dari bahan budaya perusahaan dan konsep yang mendasarinya membentuk bagian yang penting proses induksi bagi karyawan baru. Etos untuk fokus pada pencapaian laba perusahaan ini merupakan unsur integral dalam struktur organisasi yang tercermin dan didukung oleh etos fokus laba.

Masalah utamanya adalah komunikasi strategi sebagai falsafah operasional. Hal ini dipecahkan melalui kombinasi struktur, proses dan pengembangan diri.

Sumber :

Ganesha Operation ,  Konsep ,Dasar  Dan The King,Ganesha Opertaion. Bandung: 2011

Samuel C. Certo & J.Paul Peter, Strategic Management, McGraw Sumber : -Hill, 1990, p.125.

Wiludjeng, Sri. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Garaha Ilmu

Sukoco, Badri Munir. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Erlangga: Jakarta

Tanofsky, Robert. 1994. Psikologi Manajemen. Mitra Utama: Jakarta

Nama : Tri Handayani

NPM    : 17512449

Kelas   : 2PA04

Manfaat Perencanaan dan Jenis Perencanaan

0

Manfaat Perencanaan

Perencanaan mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan,
  2. Membantu dalam kristalisasi persesuaian dalam masalah-masalah utama,
  3. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas,
  4. Pemilihan berbagai alternatif terbaik,
  5. Standar pelaksanaan dan pengawasan,
  6. Penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan,
  7. Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi,
  8. Alat memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait,
  9. Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami,
  10. Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, dan
  11. Menghemat waktu, usaha dan dana.

JENIS PERENCANAAN DALAM ORGANISASI :

Melihat tingkat hirarkis, ada tiga jenis perencanaan: perencanaan strategis, taktis dan operasional.

  1. Perencanaan Strategis.

Perencanaan ini merupakan proses dimana eksekutif / top manajer meramal arah jangka panjang dari suatu entitas dengan menetapkan target spesifik pada kinerja, dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal untuk melakukan tindakan perencanaan yang dipilih.

  1. Perencanaan Taktis / Taktik

Bagian taktis merupakan proses yang berkelanjutan, yang bertujuan dalam waktu dekat, merampingkan pengambilan keputusan dan menentukan tindakan. Bagian Ini dilakukan secara sistemik karena merupakan totalitas yang dibentuk oleh sistem dan subsistem, seperti yang terlihat dari sudut pandang sistemik

  1. Perencanaan Operasional

Karena jadwal pada tingkat operasional sesuai dengan set bagian homogen dari perencanaan taktis, yaitu, mengidentifikasi prosedur spesifik dan proses yang diperlukan di tingkat bawah organisasi, menyajikan rencana aksi atau rencana operasional. Hal ini dihasilkan oleh tingkat organisasi yang lebih rendah, dengan fokus pada kegiatan rutin perusahaan, oleh karena itu, rencana dikembangkan untuk waktu yang singkat.

  1. Perencanaan Normatif

Standar-standar tentang pendirian aturan dan / atau undang-undang dan / atau kebijakan dalam setiap kelompok atau organisasi, terutama untuk menjaga pengendalian, pemantauan dan pengembangan perencanaan dan pengembangan standar dan kebijakan. Perencanaan berhubungan erat dengan desain struktur organisasi. Ini berlaku di daerah yang sangat spesifik, yang umumnya adalah mereka yang mengawasi dan menentukan aspek pada tingkat lainnya tidak dapat dipisahkan.

Sumber :

Usaman, Husaini. 2008. Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara

Handoko. 1984. Manajemen. Yogyakarta: BPFE

Wiludjeng, Sri. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Garaha Ilmu

Nama : Tri Handayani

NPM : 17512449

Kelas : 3PA04

PERENCANAAN

0

Pengertian Perencanaan

Sistem perencanaan dan pengendalian manajemen adalah suatu sistem yang digunakan untuk merencanakan kegiatan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengimplementasikan dan memantau pelaksanaan rencana yang ditetapkan. Dari definisi tersebut terdapat tiga kesimpulan berikut ini:

  1. Perencanaan sasaran masa depan yang hendak dicapai
  2. Perencaan kegiatan untuk mencapai sasaran
  3. Pengimplementasaian dan pemantauan pelaksaan rencana.

Perencanaan yang mencakup penetapan tujuan dan standar, penentuan dan prosedur, pembuatan rencana serta ramalan (prediksi) yang diperkirakan akan terjadi. Schermerhorn mengatakan perencanaan merupakan proses untuk menentukan tujuan yang akan dicapai serta langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapainya. Lewat perencanaan seorang manager mengindentifikasi hasil kerja yang diinginkan serta mengindentifikasi cara-cara mencapainya.

Fungsi Perencanaan

Pada hakekatnya perencanaan merupakan proses pengambilan keputusan yang merupakan dasar bagi kegiatan-kegiatan/tindakan-tindakan ekonomis dan efektif pada waktu yang akan datang. Proses ini memerlukan pemikiran tentmg apa yang perlu dikerjakan, bagaimana dan di mana suatu kegiatan perlu dilakukan serta siapa yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaannya.

Langkah – langkah Dalam Menyusun Perencanaan

Proses penyusunan rencana melibatkan pemikiran ke depan berkaitan dengan apa yang akan diperbuat dengan sumber daya yang tersedia. Dalam menyususn perencanaan yang baik, seorang manajer akan memperhitungkan berbagai pertimbangan berkaitan dengan perkembangan organisasi yang dikelolanya sebagai berikut:

  1. Menganalisis dan melakukan predikisi untuk masa yang akan dating
  2. Menetapkan sasaran jangka panjang dengan menentukan sasaran yang ingin dicapai dan menetapkan hasil yang menjadi target dan tujuan akhir.
  3. Menentukan berbagai kebujakan berkaitan dengan metode yang akan diterapkan
  4. Menyusun jadwal/program yang harus dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi
  5. Melakukan evaluasi anggaran keuangan, dengan menetapkan sumber-sumber keuangan dan mengalokasikan pos-pos pengeluaran yang akan digunakan dalam kegiatan pelaksaan rencana.

Dengan menyusun perencanaan dalam sebuah organisasi diharapkan setiap bentuk kegiatanakan lebih terfokus pada sasaran yang telah ditetapkan, kinerja lebih efektif, memotifasi pegawai untuk lebih giat, memudahkan pengawasan, serta memudahkan manajer dalam mengambil keputusan.

Contoh Kasus

Perencanaan sosial. Sampah pemukiman merupakan masalah krisis di ibu kota. Setiap kampong dijakarta harus mulai merubah sampah yang krisis di lingkungannya. Dalam kasus ini terdapat 2 kampung yang berbeda, Kampung Banjarsari mulai merubah perubahan perilaku masyarakat setempat dengan memilah milah sampah dan mendaur ulang sampah tercapai dalam waktu lebih dari sepuluh tahu. Sedangkan kampong rawajati pancoran dengan dukungan dan perencanaan yang tepat, perubahan itu terjadi hanya dalam waktu dua tahun.

Analisa Kasus

       Dari analisa kasus diatas diperoleh perencaan yang berperan penting untuk tercapai nya suatu tujuan, sama dengan definisi perencanan ialah rangkaian kegiatan yang dilakukan guna memilih alternative terbaik dari sejumlah alternative yang ada untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan perencanaan sosial itu sendiri adalah suatu fungsi yang terorganisir merupakan sekumpulan kegiatan –kegiatan yang ditujukan untuk memberikan kemampuan kepada perorangan, keluarga, kelompok, dan kesatuan-kesatuan masyarakat untuk mengatasi masalah sosial oleh kondisi-kondisi yang selalu mengalami perubahan.

Sumber :

Mulyadi. 2001. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Menejemen. Jakarta : Salemba empat

Deny, 2009 . Jurnal Manajemen. Dalam jurnal-sdm

Suprapto, M.S. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Jakarta: Medpress

Supar,M. 2007. Ekonomi 3. Jakarta: Yudistira Quadra

Nama        : Tri Handayani

NPM        : 17512449

Kelas        : 3PA04

Manajemen dan Kepemimpinan

0

Pengertian Manajemen

Manajemen merupakan rangkaian aktifitas merencanakan, mengorganisaikan, mengarahkan, mengawasi, dan mengendalikan hingga menyelenggarakan secara tertib pekerjaan administrasi perkantoran untuk menunjang pencapaian tujuan organisasi.

Menurut Koonts dan O’Danell manajemen dartikan sebagai pelaksaan sesutu dengan menggunakan orang lain. Dari batasan itu, menunjukan bahwa sebagai fenomena sosial atau sebagai praktik, manajemen telah ada sejak seseorang menggunakan orang lainuntuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Manajemen berasal dari kata manage dan dalam bahasa latin manus, yang berarti memimpin, mengatur dan membimbing.

George R. Terry mendefinisikan manjemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan tindakan: perencanaan, pengorganisasian, penggiatan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.

Frans Sadikin mengatakan majemen adalah suatu proses untuk menciptakan, memelihara, dan mengoprasikan organisasi perusahaan dengan tujuan tertentu melalui upaya manusia yang istematis, terkoordinasi dan kooperatif, maka proses penetuan asas-asas pokok perusahaan yang menjadi batasan, pedoman, dan penggerak bagi setiap manusia dalam perusahaan, sudah termasuk dalam pengertian manajemen.

download

Pengertian Kepemimpinan

  • Kepemimpinan adalah perilaku individu ketika ia megarahkan aktifitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama
  • Kepemimpinan adalah suatu jenis hubungan kekuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota kelompok bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalam hubungannya dengan kegiatan sebagai anggota kelompok
  • Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian tujuan tujuan tertentu
  • Kepemimpinan atau leadership adalah cara atau teknik pimpinan atau manajer untuk mengarahkan dan menyuruh supaya orang lain mau mengerjakan apa yang yang ditugaskan.

Ditarik kesimpulan, Kepemimpinan adalah suatu proses, perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama aau sesuai dengan aturan atau sesuai dengan tujuan bersama. Sebaliknya dinamakan pemimpin adalah orang yang melaksanakan proses, perilaku atau  hubungan tersebut.

download (1)

Contoh kasus :

Manager yang bersifat otoriter.

Drs. Bambang telah menjadi manajer tingkat menengah dalam departemen produksi suatu perusahaan kurang lebih 6 bulan. Bambang bekerja pada perusahaan setelah dia pensiun dari tentara. Abdul Halim karyawan Bambang merasa tidak senang terhadap semua keputusan Bambang yang dibuat sendiri olehnya. Bambang menyatakan “dalam tentara, saya membuat semua keputusan untuk bagian saya, dan semua bawahan mengharapkan saya untuk berbuat seperti itu.”

Analisa Kasus :

       Menurut saya gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh Drs. Bambang adalah gaya kepemimpinan otoriter. Yaitu gaya yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Pemimpin mengendalikan semua aspek kegiatan. Pemimpin memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut, baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya.

Kepemimpinan otoriter juga membatasi hubungan atasan dengan stafnya dalam situasi formal dan tidak menginginkan hubungan yang penuh keakraban, keintiman serta ramah tamah. Tipe kepemimpinan sangat mengingkari usaha-usaha pencapaian tujuan lembaga pendidikan secara maksimal. Oleh karena potensi-potensi yang sebenarnya ada dan dimiliki oleh masing masing staf kerja yang tidak terbangkit, dan tidak tergugah atau tersalurkan secara bebas dan kreatif.  Penekanan kemampuan karyawan dan potensi serta kreatifitas tidak termanfaatkan secara baik.

Pengaruh gaya kepemimpinan otoriter atasan terhadap disiplin kerja karyawan sangat besar pengaruhnya karena sifat pemimpin otoriter dapat membuat karyawan menjadi patuh terhadap aturan yang dibuat oleh pemimpin.

Sumber :

Drs. Tommy Suprapto, M.S. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Medpress : Jakarta

Sukoco, Badri Munir. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Erlangga: Jakarta

Drs. Sugiyanto Wiryoputro, Akt. 2001. Dasar-dasar manajemen Kristiani. PT BPK Gunung Mulia

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Psikologi Sosial. Balai Pustaka: Jakarta

Tanofsky, Robert. 1994. Psikologi Manajemen. Mitra Utama: Jakarta

Nama : Tri Handayani

NPM    : 17512449

Kelas   : 3PA04